Fungsi Pesawat Tanpa Awak

Pesawat tanpa awak tentunya tidak akan diproduksi jika tidak mempunyai nilai lebih dibanding dengan pesawat berawak. Sebuah sistem pesawat ini dirancang dari awal untuk melakukan peran atau peranan tertentu. Perancang harus memutuskan jenis pesawat yang paling cocok untuk sebuah misi tertentu. Mereka harus bisa memutuskan apakah misi tersebut akan lebih efektif jika menggunakan dengan atau tanpa awak. Dengan kata lain, tidak mungkin untuk menyimpulkan bahwa UAV selalu memiliki kelebihan atau kekurangan dibandingkan dengan sistem pesawat berawak.

Di kalangan militer peran dan fungsi UAV dapat di kategorikan ke dalam tiga ranah utama yang sering dikenal dengan nama dull, dirty amd dangerous. Sementara di kalangan sipil, fungsi UAV lebih banyak untuk kepentingan penelitian dan lingkungan. Pemilihan pesawat tanpa awak tak jarang di dasari oleh faktor ekonomis. Aplikasi militer dan sipil seperti pengawasan dalam waktu lama dapat menjadi pengalaman membosankan untuk awak pesawat, dengan banyak jam yang dihabiskan untuk menatap monitor. Hal ini dapat menyebabkan hilangnya konsentrasi dan pada akhirnya dapat membuat kehilangan efektivitas misi. UAV, dengan video resolusi tinggi, TV yang mampu merekam saat low light, kamera thermal imaging atau radar scanning, dapat lebih efektif serta lebih murah untuk beroperasi dalam peran tersebut.

Pemantauan lingkungan kontaminasi nuklir atau kimia menempatkan awak pesawat tidak perlu menanggung resiko terkena efek radiasi, misalnya. Detoksifikasi jika menggunakan pesawat tanpa awak. Begitu juga saat menjalankan misi penyemprotan tanaman dengan bahan kimia beracun, tidak perlu masker.

Fungsi Pesawat Tanpa Awak Untuk Militer Sipil

Untuk peran militer, dimana pengintaian dan pengawasan area sangat diperlukan, tingkat erosi dari pesawat berawak kemungkinan akan melebihi dari UAV. Karena ukurannya yang lebih kecil dan tersembunyi, UAV ini lebih sulit terdeteksi oleh sistem pertahanan udara musuh dan lebih sulit untuk di serang dengan api anti pesawat atau rudal.

Kehilangan aset tentu sajamerugikan, namun di anggap lebi beresiko kehilangan awak pesawat terlatih, mengingat konsekuensi politik pasca-penangkapan seorang pilot. Operator pesawat tanpa awak bisa lebih dapat berkonsentrasi karena tidak perlu merasa terancam keselamatannya. Fakta itulah yang menjadikan pesawat ini menawarkan tingkat keberhasilan misi yang lebih tinggi, tanpa resiko kehilangan sumber daya awak pesawat.

Inspeksi Pembangkit Listrik dan pengadilan kebakaran hutan adalah contoh aplikasi dibidang sipil yang sangat berbahaya jika dilakukan pesawat berawak. UAV dapat melaksanakan tugas-tugas tersebut lebih mudah dan tanpa resiko bagi personil. Unmanned Aerial Vehicle juga terbukti lebih efektif dan efisien saat melakukan operasi di kondisi cuaca ekstrim, baik di bidang militer maupun sipil, juga berjasa dalam penelitian dan pengembangan di bidang aeronautika. Terutama untuk menguji ketangguhan purwarupa desain pesawat sipil atau militer berawak di tengah cuaca ekstrim.

Selain tugas mulia, UAV juga sering mendapat kepercayaan untuk tugas dirty, seperti menjalankan tugas mata-mata. Kegiatan ini biasanya menyangkut pelanggaran wilayah udara negara lain.

Fungsi Pesawat Tanpa Awak Terhadap Pengaruh Lingkungan

Aspek lingkungan ini sangat menentukan, terutama pada penerapan di sektor sipil. Sistem pesawat tanpa awak pada penerapannya di lingkungan sipil akan lebih sedikit memberi dampak lingkungan atau polusi dibanding pesawat berawak. Ukurannya lebih kecil, beban lebih ringan dan daya yang di gunakan lebih sedikit, sehingga tingkat emisi dan kebisingan lebih sedikit. Satu-satunya keberatan dari penduduk adalah adanya gangguan suara dan hewan ternak yang ketakutan dengan adanya pesawat yang terbang rendah.

Fungsi Pesawat Tanpa Awak Dari Aspek Ekonomi

Tipe pesawat UAV lebih kecil dari pesawat berawak yang digunakan dalam peran yang sama, dan biasanya lebih sedikit mengeluarkan biaya dalam pengoperasiannya. Biaya operasional yang sedikit dikarenakan biaya pemeliharaan, biaya bahan bakar dan lebih sedikit tempat yang di ambil, pesawat tanpa awak memiliki keuntungan dari segi ekonomis.

Aspek ekonomi ini begitu terasa saat sebuah UAV menjalankan misi pemantauan udara yang biasa dilakukan oleh pesawat yang membawa serta satu atau dua orang awak. Penghilangan kru ini bisa secara signifikan membuat sebuah pesawat menjadi lebih ramping, lebih ringan dan tentu saja lebih murah. Untuk mengakomodasi awak, sebuah pesawat setidaknya harus menyediakan space sekitar 1.5m3, belum termasuk perangkat penunjang yang harus disediakan di dalam kabin dan kokpit. Sementara di UAV, hanya dibutuhkan tak lebih dari sepersepuluhnya untuk menaruh automatic flight control sistem (AFCS), lengkap dengan peralatan sensor, komputer, kamera dan komunikasi radio.

Secara bobot pesawat berawak biasanya harus menyediakan 40% dari total bobotnya untuk kargo dan 10% untuk bahan bakar. Sebagai ilustrasi, sebuah pesawat berawak dengan bobot 250kg akan bisa digantikan perannya oleh sebuah UAV yang berbobot tidak lebih dari 15kg. Dan jika ruangan yang sedianya diperuntukkan untuk manusia dan peralatan pendukung lainnya dipakai untuk memuat logistik, tentunya akan sangat berpengaruh pada volume dan cost.

Sensor penginderaan udara biasanya memakan tempat sekitar hanya 4% dari total bobot, 2,5% daya mesin, 3% konsumsi bahan bakar serta 25% dibanding pesawat ringan. Semua ini tentunya berpengaruh pada harga pesawat. Konsumen hanya perlu mengeluarkan dana tak lebih dari 3% harga yang seharusnya dikeluarkan untuk membeli sebuah pesawat.

Namun penghematan ini ternyata masih belum signifikan, mengingat biaya untuk membuat peralatan menjadi ringkas tanpa mengurangi aspek fungsionalnya masih cukup mahal. Ketersediaan instrumen dan suku cadangnya membuat jurang nilai ekonomis sebuah UAV dibanding pesawat akhirnya tidak bisa dibilang sangat signifikan. Belum lagi ketika bicara soal investasi yang harus digelontorkan untuk sarana komunikasi yang biasa di operasikan oleh manusia dari dalam pesawat. Pembangunan stasiun kontrol juga membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Sistem flight control UAV juga jauh lebih canggih dan rumit dibanding dengan pesawat berawak. Sebuah pesawat tanpa awak mampu melakukan pengamatan udara siang dan malam dengan bantuan sistem kamera yang tidak mungkin tersaingi oleh pengamatan manual.

Selain itu, UAV dipastikan masih belum mampu menyaingi pesawat konvensional untuk urusan pengangkutan penumpang dan kargo berskala besar. Secara psikologis, terlalu besar resikonya untuk mempercayakan nyawa manusia pada sebuah sistem. Lagipula penerbangan sipil bukan hanya menyangkut flights, tapi juga soal pembelian, sumberdaya manusia, parkir dan perawatan pesawat. Belum urusan tetek bengek di darat seperti ticketing, check-in, keamanan bagasi, bea cukai, air traffic control dan fasilitas perawatan lainnya. Dengan kata lain, UAV belum akan menggantikan peran pesawat komersial dalam waktu dekat. Tapi, tentu saja, semua itu bukannya tidak mungkin.

Leave a Comment