Kategori Sistem UAV Berdasarkan Jenis Pesawat

Meski sistem UAV memiliki sejumlah elemen untuk mendukung sebuah UAV, kategorisasi tetap dibuat berdasarkan kapabilitas atau ukuran dari pesawatnya. Tidak tertutup kemungkinan sebuah sistem bisa menyertakan lebih dari UAV, tergantung dari misi yang diberikan. Namun belakangan definisi soal kategorisasi ini mulai mengalami pergeseran, mengingat tidak sedikit sebuah sistem yang ramping justru mengemban misi yang sangat penting. Klasifikasi yang banyak digunakan saat ini meliputi beberapa rangkaian sistem, mulai HALE dengan rentang sayap 35 meter atau lebih hingga NAV yang rentangnya tak lebih dari 40mm.

HALE-High Altitude Long Endurance

HALE-High Altitude Long Indurance
via google

Lebih dari 15.000m dan 24 jam lebih mengudara. Sistem ini mampu melakukan misi dalam waktu panjang (trans global) pengintaian dan pengawasan dan bisa juga dipersenjatai. Mereka biasanya dioperasikan dari pangkalan Angkatan Udara.

MALE-Medium Altitude Long Endurance

MALE-Medium Altitude Long Indurance
via google

Biasanya terbang di ketinggian 5.000-15.000m dengan durasi sekitar 24 jam. Tugas MALE mirip dengan HALE, namun biasanya dioperasikan untuk misi-misi berjarak sedang hingga jarak 500km dan dikendalikan dari air base.

TUAV-Medium Range or Tactical UAV

TUAV-Medium Range or Tactical UAV
via google

Beroperasi di rentang jelajah 100 hingga 300km Pesawat yang digunakan bisanya lebih kecil dan beroperasi menggunakan sistem yang lebih sederhana dibanding HALE dan MALE. Selain angkatan udara, angkatan darat dan angkatan laut banyak yang memanfaatkan jasa sistem ini. Sementara Close-Range UAV biasanya digunakan oleh pasukan angkatan darat untuk mengintai dan mendeteksi posisi dan kekuatan lawan. Sipil juga sering menggunakannya terutam untuk pemetaan wilayah, pemupukan dan pemantauan arus lalu-lintas. MUAV atau Mini UAV-UAV dengan bobot tak lebih dari 20kg. Biasanya diluncurkan dengan menggunakan tangan dengan daya jelajah kurang lebih 30km. Fungsinya mirip dengan TUAV, biasanya digunakan pasukan darat yang sedang bertempur. Namun sistem ini lebih banyak berguna untuk kalangan sipil.

Micro UAV atau MAV

Micro UAV atau MAV
via google

Awalnya, MAV dikategorikan sebagai UAV yang memiliki rentang tak lebih dari 150mm. Fungsi utamanya di kalangan militer adalah untuk pertempuran dalam kota yang padat penduduk dan bangunan. Pesawat dalam sistem ini harus mampu terbang dengan sangat lambat, dan jika diperlukan bisa mendarat atau bersandar dimana saja. Sejumlah riset telah dilakukan untuk meningkatkan manuver MAV, salah satunya adalah dengan menciptakan pesawat dengan sayap yang bisa berkepak. MAV biasanya diluncurkan dengan menggunakan tangan, ukurannya yang mungil membuat pesawat ini rentan terhadap turbulensi.

NAV-Nano Air Vehicle

NAV-Nano Air Vehicle
via google

Bentuknya amat mungil, biasanya diterbangkan dalam kelompok. Berguna untuk mengacaukan radar atau mengalihkan perhatian musuh. Dan jika ditambahkan kamera, pesawat ini berguna untuk pengintaian jarak dekat.

RPH-Remotely Piloted Helicopter

RPH-Remotely Piloted Helicopter
via google

Merupakan UAV yang bisa mendarat dan mengudara secara vertikal. Kemampuan ini sering menjadi nilai lebih dalam sebuah misi ditempat yang sangat terbatas. Pesawat dengan baling-baling juga terbukti lebih bisa bertahan saat menghadapi turbulensi.

UCAV-Unmanned Combat Air Vehicle

UCAV-Unmanned Combat Air Vehicle
via google

Dari namanya kita segera mengenali bahwa pesawat jenis ini berfungsi tak ubahnya sebagai jet tempur yang dapat melepas rudal dari udara ke udara. Pesawat sejenis yang memanfaatkan rotor sebagai daya dorongnya dikenal dengan nama Unmanned Combat Rotorcraft alias UCAR.

Leave a Comment