Mengenal Khadijah Binti Khuwailid Sang Penyejuk Hati Nabi

2 min read

Mengenal-Khadijah-Binti-Khuwailid-Sang-Penyejuk-Hati-Nabi

Khadijah binti Khuwailid Sang Istri Pendingin Nabi – Pada kesempatan kali ini Dutadakwah akan membahas Kahdijah binti Khuwalid. Apa yang diketahui dalam diskusi ini adalah sosok Khadijah Binti Khuwailid yang merupakan wanita pertama yang masuk Islam, sekaligus istri Nabi Muhammad SAW. Silakan lihat komentar di bawah untuk lebih jelasnya.

Khadijah Binti Khuwailid Istri Nabi yang mendingin

Siapa yang tak kenal dengan karakter Khadijah Binti Khuwailid, memang Khadijah Binti Khuwailid wanita terbaik di surga. Ini seperti yang dikatakan Nabi, “Wanita terbaik di surga adalah Maryam binti Imran dan Khadijah binti Khuwailid.” Khadijah adalah wanita pertama yang hatinya tenggelam dalam keimanan dan yang dipersembahkan oleh Allah untuk memberikan keturunan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Dia menjadi wanita pertama yang menjadi Ummahatul Mukminin, dan dia juga merasakan berbagai kesulitan di tahap awal penyebaran Jihad Allah ke seluruh umat manusia.

 

Mengenal-Khadijah-Binti-Khuwailid-Sang-Penyejuk-Hati-Nabi

Berikut Ini Telah Kami Kumpulkan Yang Bersumber Dari Laman https://www.dutadakwah.co.id/ Yang Akhirnya Saya Tuliskan Disini.

 

Khadijah binti Khuwailid

Khadijah adalah seorang wanita yang tinggal dan dibesarkan di suku Quraisy dan lahir dalam keluarga terhormat lima belas tahun sebelum tahun gajah. Begitu banyak pemuda Quraisy yang ingin dinikahinya. Sebelum Khadijah menikah dengan Rasulullah, dia menikah dua kali. Suami pertama Khadijah adalah Abu Halah at-Tamimi yang meninggal dunia, meninggalkan harta yang berlimpah dan jaringan bisnis yang luas dan berkembang. Pernikahan kedua Khadijah adalah dengan Atiq bin Aidz bin Makhzum, yang juga meninggal, meninggalkan properti dan bisnis. Jadi Khadijah menjadi orang terkaya di antara orang Quraisy.

Istri pertama Rasulullah

Tuhan ingin hamba pilihan-Nya menikah dengan Khadijah. Saat itu, Muhammad baru berumur dua puluh lima tahun sedangkan Khadijah berumur empat puluh tahun. Meski usia mereka sangat berbeda dan kekayaan mereka tidak sesuai, pernikahan mereka bukanlah pernikahan yang aneh karena Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberi mereka berkah dan kemuliaan.

Khadijah adalah istri pertama Nabi dan menjadi satu-satunya wanita sebelum dia meninggal. Allah menganugerahkan sallallaahu ‘alaihi wassalam kepada Nabi. oleh Khadijahs Rahirn memiliki beberapa anak ketika klub dibutuhkan dan memiliki banyak keturunan. Ia memberikan cinta dan kasih sayang kepada Rasuluflah Shallallahu alaihi wassalam. Di masa-masa sulit, tindak kekerasan dan kekejaman datang dari kerabat dekat. Bersama Khadijah, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menerima ijazah yang baik dan rumah tangga yang damai dan penuh kasih, setelah sekian lama dia merasa getir menjadi yatim piatu dan yatim piatu yang miskin.

Sosok istri penyegar hati nabi

Ketika Jibril turun dengan wahyu pertama, nabi itu sangat gemetar dan khawatir. Dia bergegas kembali ke apartemennya karena takut. Nabi meminta istrinya, Khadijah binti Khuwailid, untuk membawa selimut. Khadijah menenangkan diri dan menyelimuti suaminya. Setelah dia tenang, Nabi menceritakan kepada Khadijah apa yang dia alami di gua Hira.

Nabi prihatin tentang apa yang dilihatnya dari iblis. Khadijah tenang kembali dan menyangkal kekhawatiran suaminya, dia berkata kepada Nabi:

Artinya: “Tidak mungkin. Melalui Tuhan, Tuhan tidak akan mempermalukan kamu. Sungguh kamu ikut persaudaraan, berbicara jujur, menggendong yang lemah, menjamu tamu, dan membantu masalah hak-hak orang lain.”

Untuk meyakinkan suaminya, Khadijah mengajak Nabi bertemu dengan sepupu Khadijah Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza. Waraqah dikenal sebagai seorang Kristen yang menguasai isi Injil. Tentu saja, Injil masih asli. Waraqah menulis ulang Injil dalam bahasa Ibrani. Ketika Nabi dan Khadijah ditemukan, Waraqah sudah tua dan buta.

“Oh keponakanku, dengarkan apa yang dikatakan saudaramu (Muhammad),” kata Khadijah dan membuka percakapan dengan Waraqah. Kemudian Nabi menceritakan kepada Waraqah apa yang dialaminya. Setelah mendengar keluhan Nabi, Waraqah menjawab:

Artinya: “Sesungguhnya sesosok malaikat akan datang kepadamu, yang merupakan keturunan nabi Musa. Semoga aku masih hidup ketika kamu dikucilkan dari bangsamu.”

Nabi bertanya:

“Maukah Anda mengusir saya?”

Waraqah melanjutkan penjelasannya:

 

“Memang benar. Tidak ada orang yang membawa risalah sepertimu kecuali musuh. Saat aku menemukan hari penggusuranmu nanti, aku akan sangat membantumu”.

Cita-cita waraqah

Ambisi luhur Waraqah untuk membantu suami sepupunya tidak terwujud. Segera setelah itu, Waraqah meninggal.

Khadijah sangat percaya diri dan membaca pelayanan Rasul Nabi dengan cermat. Sementara Nabi masih prihatin dan prihatin, Khadijah memperkuatnya. Karenanya, Khadijah disebut-sebut sebagai mujtahid perempuan pertama dalam sejarah Islam karena Khadijah melakukan ijtihad dan menggali tanda-tanda rasul suaminya sebelum diangkat menjadi utusan sebagai tanda kebenaran dakwahnya.

Khadijah sangat tenang dan adem. Itu seperti seorang ibu bagi Nabi ketika Nabi merasa tidak enak. Para ulama Arifin (mata batin yang tajam) menyatakan: “Khadijah adalah ibu dari orang-orang yang beriman, juga untuk Nabi”, karena Nabi pada saat itu sangat membutuhkan sosok ibu dibandingkan dengan istrinya. Khadijah benar-benar mengambil peran sebagai ibu Nabi, peduli, menenangkan dan setia kepada Nabi di saat-saat sulit.

Semoga komentar Khadijah Binti Khuwailid Sang Istri Pendingin Hati Nabi. Dapat memberikan manfaat dan ilmu bagi kita semua. Terima kasih

Lihat Juga : https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-tawasul-arab-ringkas/