Fakta-fakta di Balik Bangkitnya Merpati Airlines dari Mati Suri

Selama sepekan terakhir, maskapai Merpati Airlines muncul ke ranah pemberitaan. Namanya memang sempat tenggelam selama beberapa tahun karena masalah pailit dengan nominal cukup besar. Hal ini pula yang membuat PT Merpati Nasional Airlines tidak bisa melanjutkan penerbangan walaupun cukup diminati masyarakat Indonesia.

Namun, maskapai yang masuk dalam jajaran BUMN ini dikabarkan akan beroperasi kembali. Hal ini tak terlepas dari keputusan yang dijatuhkan Pengadilan Niaga Surabaya terhadap proposal damai seputar Penundaan Kewajiban Utang atau PKPU yang diajukan Merpati. Akan tetapi, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi maskapai plat merah tersebut sebelum resmi mengudara kembali.

Syarat-syarat yang wajib dipenuhi Merpati Airlines

Syarat yang wajib dipenuhi antara lain mengajukan permohonan Surat Izin Usaha Angkutan Niaga Berjadwal dan Sertifikat Operator Pesawat Udara kepada Kementerian Perhubungan. Selain itu, pihak Merpati tak boleh melanggar pengaturan yang sudah tercantum pada Undang-undang nomor 1 tahun 1999 yang membahas tentang Penerbangan beserta ketentuannya. Kedua surat milik Merpati Arlines sendiri sudah kedaluwarsa 12 bulan sejak berhenti beroperasi.

Kemudian, Merpati Air harus melengkapi dokumen pengajuan dengan NIB atau Nomor Induk Berusaha sesuai Izin Usaha dan OSS. Beberapa persyaratan lain yang bersifat administratif seperti Rencana Usaha selama minimal 5 tahun dan pembayaran PNPB juga harus disiapkan.

Bahkan setelah semua dokumen ini dilengkapi, Merpati masih harus mendapatkan sertifikat operator pesawat udara sebelum diizinkan melakukan penerbangan resmi. Tahap-tahap yang akan dilewati oleh Merpati demi mendapatkan sertifikat tersebut di antaranya pre-application, formal application, document compliance, demo & inspection, dan berakhir pada certification.

Fakta-fakta di balik kembalinya Merpati Airlines ke dunia dirgantara

Adapun fakta-fakta menarik seputar Merpati Air yang sudah berdiri pada 1962 tersebut, antara lain:

  • Memikul utang sekitar Rp10,72 triliun

Kerugian menghantam Merpati Air sejak 2008. Jumlah utang yang ditanggung maskapai ini pada saat itu adalah Rp2,8 triliun dan membengkak menjadi Rp10,72 triliun pada 2017. Untuk menebus utang Merpati Airlines, BUMN melakukan tindakan penyelamatan terhadap aset-asetnya. Pihak kementerian lantas menunjuk PT PPA atau PT Perusahaan Pengelolaan (Persero) untuk mengurus pelunasan utang dan menjadi jembatan di antara pihak kreditur dengan debitur.

  • Usia armada terlalu tua dan kalah saing

Kemudian, pesawat-pesawat Merpati Air sebenarnya sudah tak layak digunakan mengingat usianya yang terlalu tua dan membahayakan kalau terus diterbangkan. Faktor ini yang lantas mendorong maskapai ini mengurangi rute penerbangan sampai tak bisa melanjutkannya lagi. Belum lagi kemunculan maskapai-maskapai baru yang leboh canggih dan terjangkau yang kian menjorokkan Merpati Air. Tingkat keterisian penumpang Merpati sempat mencapai 77% saja hingga berhenti beroperasi per 2014.

  • Upaya PPA mencarikan dana untuk Merpati

PT PPA sempat menyuntikkan dana sebesar Rp300 miliar untuk Merpati Air pada 2008. Perusahaan ini juga terus berupaya menyelamatkan maskapai melalui kajian bisnis dan rekomendasi, termasuk kucuran dana sebesar Rp561 miliar dari PMN pemerintah. Tak hanya itu, PT PPA sampai memasang iklan di berbagai media massa untuk mengundang investor yang bersedia menyelamatkan Merpati Airlines dan PMN dari pihak-pihak lain.

  • Sidang PKPU sempat ditunda sampai 3 Oktober 2018

PKPU yang diajukan sejumlah kreditur Merpati Air disetujui Pengadilan Niaga Surabaya pada awal 2018, tepatnya tanggal 6 Februari. Sidang PKPU digelar pada 3 September 2018 untuk mengambil keputusan terkait kewajiban utang maskapai terhadap kreditur, tetapi ditunda sampai 3 Oktober 2018. Penundaan ini disebabkan adanya keterlambatan pengajuan proposal yang datang dari debitur. Beberapa dokumen pun disebutkan belum dilengkapi para calon investor.

  • Kim Johanes bersedia memberikan dana

Salah satu calon investor yang bersedia menghidupkan kembali Merpati Air adalah PT Intra Asia Corpora milik Kim Johanes Mulia. Disitat dariwebsite PT PPA, Kim Johanes berminat menyuntikkan dana sebesar Rp6,4 triliun dan sudah menandatangani Perjanjian Penyertaan Modal Bersyarat kepada maskapai ini pada akhir Agustus 2018 bersama Asep Ekanugara (Direktur Utama Merpati) dan Henry Sihotang selaku saksi. Dana ini akan dicairkan dua tahun setelah Merpati Airlines memenuhi kewajiban.

3 thoughts on “Fakta-fakta di Balik Bangkitnya Merpati Airlines dari Mati Suri”

Leave a Comment