Berkunjung Ke Muzium TUDM Kuala Lumpur

Sebelum melihat koleksi benda-benda bersejarah milik Museum TUDM, penulis sempat mendegar kabar bahwa koleksi benda-benda sejarah yang berhubungan dengan kedirgantaraan paling besar dan apik sebenarnya ada di tanah air. Tak salah lagi museum TNI AU Dirgantara Mandala, Lanud Adisucipto, Yogyakarta. Namun rasanya kurang sreg kalau Cuma sekedar mendengar info tanpa pembuktian dengan mata dan kepala sendiri. Bila dilihat dari segi lokasi, museum yang ditulis dalam bahasa lokal Malaysia ditulis dengan Muzium TUDM berada di pangkalan udara (militer) Kuala Lumpur. Dulu tempat ini lebih dikenal dengan nama Pangkalan Udara Sungai Besi, Kuala Lumpur. Namanya juga berada dalam wilayah pangkalan militer, alhasil saat masuk pun ada pemeriksaan seperlunya dari PASKAU (Pasukan Khusus TUDM). Sebagai tambahan info, letak museum/pangkalan udara ini berdekatan dengan markas Polisi Udara Malaysia (Polis Udara).

Benda Koleksi Muzium TUDM

Seperti umumnya museum, pihak pengelola membagi daerah pameran menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah ruang pamer indoor dan sisanya outdoor. Untuk indoor mereka menyebutnya bilik. Bilik pertama yang akan kita temui adalah segala peralatan bagian dalam pesawat. Salah satu yang cukup menarik adalah kursi lontar dari reruntuhan jet tempur F-5E Tiger II TUDM yang jatuh di kawasan Laut China Selatan. Selain perlatan asli, sebagai penguat imajinasi bilik ini juga dilengkapi dengan sejumlah model rakitan (model kit). Beranjak ke bilik kedua, tema yang diusung lebih condong pada sejarah perjalanan TUDM. Penyajiannya dilakukan dalam bentuk display yang dibuat menempel sepanjang dinding bilik. Beda dengan Dirgantara Mandala, sebagian besar berisi display model kit pesawat yang pernah dimiliki TUDM. Bukan diaroma hasil karya seniman. Sayang soal keapikan tergolong kurang. Itu kalau tak mau dibilang berantakan.

Sejumlah model kit yang dipajang rusak tak terawat. Beberapa diantaranya memakai decal diluar TUDM. Bahkan pada ujung belakang dipergoki sebuah ban panser V150 yang meledak akibat hantaman ranjau di daerah Kamboja. Sebuah koleksi yang tak ada hubungannya dengan dunia kedirgantaraan. Satu lagi, lantara antara bilik dipisahkan taman tanpa atap, maka saat hujan tiba pengunjung mesti menyiapkan payung.

Bergeser ke wilayah outdoor, soal jumlah benda koleksi memang masih bisa masuk hitungan jari. Sejumlah tipe pesawat yang pernah dimiliki TNI AU bisa jadi obat penawar rindu. Sebut saja di antaranya pesawat bermesin ganda dengan konfigurasi high-wing Scottish Twin Pioneer, Single Piooner atau Provost. Untuk yang disebutkan terakhir dipasang tepat disamping pintu gerbang museum lengkap dengan cantelan roket. Secara garis besar ruang display outdoor dibagi menjadi dua kategori. Bagian pertama lebih pas disebut sebagai outdoor murni. Ini karena benda koleksi tak dilindungi atap sedikit pun. Masuk dalam kategori ini adalah Jet CL-41G Tebuan, DHC-4A Caribou, dan pesawat amfibi UF-2 Albatross. Untuk caribou sengaja bagian belakang pesawat dibuka sehingga pengunjung tak kesulitan untuk masuk kedalam kabin. Sayang, kurangnya perawatan membuat bagian dalam pesawat bocor. Selain tiga pesawat tadi terdapat pula heli Alouette III dan Panser Ferret milik AD Malaysia. Lagi-lagi keduanya seperti dibiarkan begitu saja. Kategori kedua pada Muzium TUDM bisa dibilang merupakan semi outdoor lantaran benda koleksi disimpan dalam hangar. Kembali sentuhan perawatan tak diberlakukan di area ini.

Leave a Comment