Sejarah Berdirinya Monas Serta Bagian-bagiannya

2 min read

Sejarah-Berdirinya-Monas-Serta-Bagian-bagiannya

Pengertian Monas (Monumen Nasional)

Siapa yang tidak kenal Monas? Monumen Nasional ini kaya akan sejarah bangsa Indonesia. Setiap warga negara Indonesia mengetahui sejarah Monas dan pernah mengunjunginya. Monumen Nasional atau disingkat Monas merupakan tugu peringatan setinggi 132 meter yang didirikan untuk mengenang perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari penjajahan.

Sejarah-Berdirinya-Monas-Serta-Bagian-bagiannya

 

Berikut Ini Telah Kami Kumpulkan Yang Bersumber Dari Laman belajar matematika dasar Yang Akhirnya Saya Tuliskan Disini.

Sejarah Berdirinya Monas Serta Bagian-bagiannya

Monumen Nasional atau yang populer disingkat Monas atau Tugu Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari penjajahan kolonial Hindia Belanda. Pembangunan monumen ini dimulai pada 17 Agustus 1961 atas perintah Presiden Soekarno dan dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975. Monumen ini bermahkotakan api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang berapi-api. Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat.

Sejarah Monas (Monumen Nasional)

Setelah pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Jakarta setelah sebelumnya berdomisili di Yogyakarta pada tahun 1950 menyusul pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1949, Presiden Soekarno mulai memikirkan untuk membangun tugu nasional setara dengan Menara Eiffel di lapangan tepat di depan Istana Merdeka. Pembangunan tugu Monas bertujuan untuk mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia di masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus menginspirasi dan menginspirasi generasi patriotisme saat ini dan yang akan datang.

Pada tanggal 17 Agustus 1954 dibentuk panitia nasional dan diadakan lomba desain monumen nasional pada tahun 1955. Ada 51 karya yang masuk, namun hanya satu karya karya Frederich Silaban yang memenuhi kriteria yang ditetapkan panitia, diantaranya mendeskripsikan karakter bangsa Indonesia. dan mampu bertahan selama berabad-abad. Kontes kedua diadakan pada tahun 1960 tetapi tidak satupun dari 136 peserta yang memenuhi kriteria. Ketua juri kemudian meminta Silaban untuk menunjukkan desainnya kepada Soekarno. Namun, Sukarno tidak menyukai desainnya dan ingin monumen itu berbentuk lingga dan yoni. Silaban kemudian diminta untuk merancang sebuah tugu dengan tema seperti itu, akan tetapi desain yang diusulkan oleh Silaban terlalu luar biasa sehingga mengeluarkan biaya yang sangat besar dan tidak dapat ditanggung oleh APBN, apalagi kondisi perekonomian yang cukup buruk. Silaban menolak merancang bangunan yang lebih kecil, dan menyarankan pembangunan ditunda sampai ekonomi Indonesia membaik. Soekarno kemudian bertanya kepada arsitek R.M. Soedarsono untuk melanjutkan desain. Soedarsono memasukkan angka 17, 8 dan 45, melambangkan 17 Agustus 1945 mulai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ke dalam desain monumen tersebut. Tugu Peringatan Nasional ini kemudian dibangun di atas lahan seluas 80 hektar. Monumen ini dirancang oleh Friedrich Silaban dan R. M. Soedarsono, mulai dibangun pada 17 Agustus 1961.

Monumen Monumen Nasional yang biasa disebut Monas memang fenomenal. Monumen Monas setinggi 132 meter dengan nyala api di puncaknya yang terbuat dari emas seberat 38 kilogram ini menggambarkan semangat perjuangan yang membara.

Monas dibangun di atas lahan seluas 80 hektar yang dirancang oleh Frederich Silaban dan R. M. Soedarsono. Pembangunan dimulai pada 17 Agustus 1961 dan dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama selesai tahun 1963, dengan pembangunan pondasi dengan 284 pasak beton dan 360 pasak bumi, dinding museum di dasar bangunan dan obelisk.

Tugu monas dirancang dengan mengacu pada konsep universal sepasang kekasih, yaitu Lingga dan Yoni. Tugu obelisk melambangkan lingga, unsur jantan yang maskulin dan aktif. Sedangkan pelataran tugu melambangkan Yoni, unsur perempuan pasif. Pasangan Lingga dan Yoni ini melambangkan kesuburan dan keharmonisan. Kedua simbol ini telah dikenal di nusantara sejak jaman dahulu kala.

Simbolisasi lainnya adalah perwujudan sepasang “alu” dan “lesung”, alat penumbuk padi dalam rumah tangga petani tradisional Indonesia. Ini menunjukkan keunikan budaya Indonesia.
Kolam berukuran 25 x 25 meter ini dirancang sebagai bagian dari sistem pendingin udara sekaligus mempercantik tampilan Taman Monas. Di dekat kolam dibangun air mancur dan patung Pangeran Diponegoro sedang menunggang kuda, terbuat dari perunggu seberat 8 ton. Patung yang dibuat oleh pematung berkebangsaan Italia, Prof. Coberlato ini merupakan sumbangan dari Konsul Jenderal Kehormatan, Dr. Mario. Di setiap sudut pelataran luar yang mengelilingi monumen, terdapat relief yang menggambarkan sejarah bangsa Indonesia. Relief ini dimulai dari sudut timur laut, searah jarum jam ke tenggara, sudut barat daya dan barat laut, mulai dari kejayaan nusantara, penjajahan hingga mencapai masa perkembangan Indonesia modern.

 

 

Lihat Juga : Soal dan pembahasan matematika dasar sbmptn